Langsung ke konten utama

Fatherless Family: Ketika Ayah Hanya Tahu Cari Uang Saja?

Mengasuh anak sejatinya adalah tanggung jawab utama orang tua, bapak dan ibu. Namun ada juga pandangan menurut beberapa orang yang beranggapan bahwa mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga adalah tugas ibu. Sedangkan peran bapak hanyalah pencari nafkah saja, sehingga bapak tidak banyak berperan dalam parenting bahkan sangat minim. Fatherless family , sebuah label yang diberikan kepada sebuah keluarga dimana peran ayah dalam pengasuhan anak dikeluarga tersebut yang minim baik secara fisik maupun psikis. Fatherless merupakan kombinasi dari jarak secara fisik dan emosional antara ayah dan anaknya. Pandangan anak tentang keterlibatan ayahnya menandakan esensi dari peran ayah dalam kehidupan anak. Benarkah seperti itu? Feel You akan mencoba membahas fenomena fatherless family . Mengapa fatherless family bisa terjadi? Di negara barat Peningkatan jumlah orang tua tunggal disebabkan oleh meningkatnya perceraian. Adanya perubahan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kondisi

Fatherless Family: Ketika Ayah Hanya Tahu Cari Uang Saja?

Mengasuh anak sejatinya adalah tanggung jawab utama orang tua, bapak dan ibu. Namun ada juga pandangan menurut beberapa orang yang beranggapan bahwa mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga adalah tugas ibu. Sedangkan peran bapak hanyalah pencari nafkah saja, sehingga bapak tidak banyak berperan dalam parenting bahkan sangat minim.

Fatherless family, sebuah label yang diberikan kepada sebuah keluarga dimana peran ayah dalam pengasuhan anak dikeluarga tersebut yang minim baik secara fisik maupun psikis. Fatherless merupakan kombinasi dari jarak secara fisik dan emosional antara ayah dan anaknya. Pandangan anak tentang keterlibatan ayahnya menandakan esensi dari peran ayah dalam kehidupan anak.

Benarkah seperti itu? Feel You akan mencoba membahas fenomena fatherless family.

Mengapa fatherless family bisa terjadi?

Di negara barat

Peningkatan jumlah orang tua tunggal disebabkan oleh meningkatnya perceraian. Adanya perubahan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kondisi orang tua tunggal, seperti lebih sedikit orang yang menikah dan lebih memilih untuk cohabiting (kumpul kebo) sebelumnya atau dibanding menikah. Sedangkan hubungan pasangan yang melakukan cohabiting cenderung rapuh. Rata-rata mereka bertahan selama 2 tahun sebelum putus atau berubah status menjadi menikah. Dari pasangan cohabiting yang tidak menikah, hanya sekitar 18% yang bertahan selama kira-kira 10 tahun. Selain perceraian, fatherless dapat terjadi karena ayah yang tidak "hadir" karena masalah pekerjaan, ayah meninggal sebelum anak mencapai usia dewasa, bahkan anak yang terlahir diluar pernikahan.

Di Indonesia

Berbeda dengan negara Barat dimana fatherless terjadi karena ayah dan ibu yang tidak menikah, di Indonesia dimana pasangan menikah secara sah namun peran sebagai ayah masih terabaikan.

Source: freepik on www.freepik.com

Dampak fatherless

Ketiadaan peran ayah dalam keluarga terhadap perkembangan psikologis anak diantaranya: harga diri rendah (self-esteem), perasaan marah (anger), malu (shame) karena tidak memiliki pengalaman kebersamaan dengan ayah yang dirasakan anak lainnya, kesepian (loneliness), kecemburuan (envy), duka (grief), kehilangan (lost) yang amat sangat, kontrol diri rendah (self-control), mengambil resiko (risk taking), kecenderungan neurotik.

Dampak fatherless pada anak perempuan

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi modal awal bagi perempuan dewasa untuk berinteraksi secara positif dengan laki-laki dalam hidupnya. Dampak fatherless pada anak perempuan lebih luas dibandingkan anak perempuan yang memiliki hubungan yang bermakna serta kokoh dengan ayahnya. Ketidakhadiran sosok ayah dalam kehidupan anak perempuan mengakibatkan "kekosongan" dalam dirinya. Kekosongan tersebutlah yang menjadi pemicu anak perempuan mendapatkan perlakuan salah dari pria karena dirinya berusaha mengisi kekosongan tersebut.

Perempuan yang dibesarkan tanpa ayah lebih memiliki preferensi dalam memilih pasangan romantis yang tinggi. Perempuan yang ayahnya kurang terlibat dalam pengasuhan sehingga menimbulkan persepsi yang kurang baik, cenderung mempunyai sensitifitas yang tinggi kepada perasaan orang lain, dirinya akan menjadi sangat hati-hati dalam memilih pasangan karena rasa tidak percaya dengan orang lain.

Dampak fatherless pada anak laki-laki

Hasil penelitian longitudinal, anak laki-laki yang hanya tinggal bersama ibu menunjukkan tingkat agresi yang lebih tinggi. Ini membenarkan bahwa pengawasan dan pendampingan oleh ayah akan mempengaruhi sikap dan perilaku anak. Jika hal itu tidak didapatkan oleh anak anak, perilaku buruk yang mereka lakukan adalah bentuk protes atas kekosongan dan kehampaan yang dirasakan anak.

Anak laki-laki yang mengalami fatherless berisiko melakukan juvenile delinquent (kenakalan remaja) bahkan hingga masuk lembaga pemasyarakatan atau drop out dari sekolah.

Baca juga: 5 Isu Penting Hubungan dengan Mertua dan Bagaimana Menyikapinya

Peran ayah yang seharusnya

Peran ayah dalam proses pengasuhan sangat diperlukan untuk mengindari dampak buruk fatherless. Peran ayah tidak terbatas pada pencari nafkah keluarga saja untuk memenuhi kebutuhan anak, namun juga menjadi teman bagi anak, memberikan kasih sayang dan merawatnya, mendidik serta menjadi teladan yang baik, memantau aturan disiplin, melindungi dari resiko/bahaya, membantu, mendampingi hingga membela anak jika mengalami kesulitan, dan tak lupa mendukung potensi untuk keberhasilan anak.


Sources

Fiqrunnisa, A., Yuliad, I., & Saniatuzzulfa, R. (2023). Hubungan Persepsi Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan dengan Pemilihan Pasangan pada Perempuan Dewasa Awal Fatherless. Psyche: Jurnal Psikologi Universitas Muhammadiyah Lampung, 152-167.

O'Neill, Rebecca. (2022). Experiments in Living: The Fatherless Family. London: Civitas.

Sundari, Arie Rihardini., & Herdajani, Febi. (2013). Dampak Fatherless terhadap Perkembangan Psikologis Anak. Prosiding Seminar Nasional Parenting, 256-271.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta Bukan Cuma Romantis Saja, Ini Bentuk Lainnya Menurut Psikologi

Berbicara tentang cinta, banyak sekali maknanya menurut setiap orang dengan pengalamannya masing-masing. Tapi cinta itu apa sih ? Apakah cinta hanya untuk hubungan romantis dengan pasangan saja? Apakah ada bentuk cinta yang lain? Bagaimana juga dengan cinta kepada teman-teman atau bahkan kepada Tuhan? Berikut ini adalah bentuk-bentuk cinta menurut tokoh psikologi, Rollo May, yang Feel You tulis buat kamu Feels. 1. Sex Seks adalah fungsi biologis yang dapat dipuaskan melalui hubungan seksual atau pelepasan ketegangan seksual lainnya. 2. Eros Terjadi kebingungan perbedaan antara eros dan seks. Seks merupakan kebutuhan fisiologis yang mencari kepuasan melalui pelepasan ketegangan. Berbeda dengan seks, eros merupakan dorongan psikologis yang menginginkan hubungan seksual melalui pernikahan yang langgeng dengan orang yang kita cintai. Eros is making love, sex is manipulating organs . Eros berorientasi pada hubungan yang awet, sedangkan seks adalah keinginan untuk merasakan kesenangan. Eros

5 Isu Penting Hubungan dengan Mertua dan Bagaimana Menyikapinya

Ketika kamu berpikir bahwa setelah menikah nanti hanya akan ada kamu dengan pasanganmu saja, pemikiran tersebut salah besar. Mungkin selama beberapa hari setelah pesta pernikahan iya, hanya ada kamu dan pasanganmu saja untuk menghabiskan moment honeymoon . Namun setelahnya, tentu keluarga dari pasanganmu berekspektasi bahwa mereka juga bagian dari hidupmu. Beberapa budaya non-barat, keterlibatan orang tua lebih menonjol dan terang-terangan. Pada beberapa pasangan setelah menikah, istri akan ikut tinggal bersama suami dan orang tua suami tanpa batas waktu tertentu. Sedangkan pada budaya barat, hubungan dengan mertua tidak terbentuk secara kaku namun tetap ada. Tidak bisa dipungkiri ketika seseorang menikah, dirinya akan menjadi bagian dari keluarga besar pasangannya. Bisa dikatakan bahwa kita juga menikahi sebuah keluarga, termasuk kebaikan dan keburukannya. Bagaimana baik atau buruknya, dekat atau jauhnya hubungan kita dengan keluarga pasangan bergantung pada kesempatan atau moment yan