Langsung ke konten utama

Fatherless Family: Ketika Ayah Hanya Tahu Cari Uang Saja?

Mengasuh anak sejatinya adalah tanggung jawab utama orang tua, bapak dan ibu. Namun ada juga pandangan menurut beberapa orang yang beranggapan bahwa mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga adalah tugas ibu. Sedangkan peran bapak hanyalah pencari nafkah saja, sehingga bapak tidak banyak berperan dalam parenting bahkan sangat minim. Fatherless family , sebuah label yang diberikan kepada sebuah keluarga dimana peran ayah dalam pengasuhan anak dikeluarga tersebut yang minim baik secara fisik maupun psikis. Fatherless merupakan kombinasi dari jarak secara fisik dan emosional antara ayah dan anaknya. Pandangan anak tentang keterlibatan ayahnya menandakan esensi dari peran ayah dalam kehidupan anak. Benarkah seperti itu? Feel You akan mencoba membahas fenomena fatherless family . Mengapa fatherless family bisa terjadi? Di negara barat Peningkatan jumlah orang tua tunggal disebabkan oleh meningkatnya perceraian. Adanya perubahan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kondisi

5 Isu Penting Hubungan dengan Mertua dan Bagaimana Menyikapinya

Ketika kamu berpikir bahwa setelah menikah nanti hanya akan ada kamu dengan pasanganmu saja, pemikiran tersebut salah besar. Mungkin selama beberapa hari setelah pesta pernikahan iya, hanya ada kamu dan pasanganmu saja untuk menghabiskan moment honeymoon. Namun setelahnya, tentu keluarga dari pasanganmu berekspektasi bahwa mereka juga bagian dari hidupmu.

Beberapa budaya non-barat, keterlibatan orang tua lebih menonjol dan terang-terangan. Pada beberapa pasangan setelah menikah, istri akan ikut tinggal bersama suami dan orang tua suami tanpa batas waktu tertentu. Sedangkan pada budaya barat, hubungan dengan mertua tidak terbentuk secara kaku namun tetap ada.

Tidak bisa dipungkiri ketika seseorang menikah, dirinya akan menjadi bagian dari keluarga besar pasangannya. Bisa dikatakan bahwa kita juga menikahi sebuah keluarga, termasuk kebaikan dan keburukannya. Bagaimana baik atau buruknya, dekat atau jauhnya hubungan kita dengan keluarga pasangan bergantung pada kesempatan atau moment yang kita miliki untuk berinteraksi dengan mereka. Ketika kita tinggal jauh dari keluarga besar, hubungan kita dengan keluarga besar bisa jadi positif namun berjarak. Kesempatan untuk bertemu mungkin hanya pada moment liburan hari raya, pernikahan, dan pemakaman. Berbeda ketika tinggal berdekatan dengan keluarga besar, kita lebih banyak memiliki interaksi dengan mereka.

5 Isu Penting

Ketika menikah dengan pasangan dan menjadi bagian dari keluarga besarnya, tentu perlu sebuah adaptasi. Biasanya hubungan yang paling dekat adalah hubungan dengan orang tua dari pasangan (ibu dan bapak mertua). Nah terdapat lima isu penting yang perlu untuk didiskusikan dan dinegosiasikan terkait hubungan dengan mertua, baik itu kamu dengan orang tua pasanganmu dan sebaliknya pasanganmu dengan orang tuamu.

Source: freepik on www.freepik.com

1. Liburan

Liburan hari raya adalah moment dimana lebih banyak keluarga berkumpul dibanding liburan lainnya. Seringnya orang tua dari pasangan menginginkan kita dan pasangan untuk menghabiskan waktu dengan mereka saat hari libur tersebut tiba. Disaat yang sama orang tua kita sendiri juga menginginkan hal yang sama. Hal tesebut sangatlah memungkinkan ketika orang tua dan mertua tinggal di kota yang sama.

Namun akan berbeda cerita ketika orang tua dan mertua tinggal berjauhan, berbeda pulau atau negara misalnya. Kamu dan pasangan perlu bernegosiasi dengan orang tua dan mertua untuk menghabiskan liburan dengan orang tua kamu pada tahun ini dan dengan mertua kamu pada tahun depan. Hal ini berlaku juga untuk liburan lainnya yang mungkin dianggap penting untuk salah satu maupun kedua keluarga.

2. Tradisi

Setiap keluarga memiliki kebiasaan atau tradisi tersendiri untuk hal-hal penting, misal ketika merayakan moment penting. Tradisi dalam keluarga sering dilandasi oleh emosi yang dalam dan tidak boleh dianggap enteng. Misal dalam keluargamu terbiasa ketika orang tuamu berulang tahun akan merayakannya dengan cara makan malam bersama di rumah makan setiap tahunnya. Namun pada saat ini karena kamu dengan orang tuamu hidup berbeda negara serta keuanganmu dengan pasangan sedang tidak stabil, maka hal tersebut perlu didiskusikan dan dinegosiasikan jalan tengahnya agar orang tuamu tidak kecewa.

3. Ekspektasi

Orang tua dari pasangan juga memiliki ekspektasi terhadap sikap atau perilaku kita. Beberapa ekspektasi juga bisa berhubungan dengan aspek religiusitas. Untuk isu yang satu ini, kamu bisa menggali informasi dari pasangan apa-apa saja ekspektasi penting dari orang tua pasanganmu dan mendiskusikannya secara privat ya Feels.

Baca juga: Saling Jatuh Cinta Bukan Alasan Menikah yang Tepat

4. Perilaku orang tua pasangan yang mengganggu

Hidup dari keluarga yang berbeda dengan kita yang mungkin memiliki kebiasaan yang berbeda bisa membentuk perilaku yang berbeda pula dengan keluarga kita sendiri. Mungkin kita akan menemukan beberapa perilaku dari orang tua pasangan yang menurut kita menjengkelkan bahkan mengganggu kita. Saat menyadari hal tersebut kamu berharap ada sesuatu yang bisa kamu lakukan, namun nyatanya kamu merasa tidak berdaya.

5. Perbedaan keyakinan agama dengan orang tua pasangan

Orang tua dari pasangan bisa saja memiliki pandangan yang berbeda dengan kita terkait ajaran agama yang dianut. Bisa saja kalian menganut agama yang sama namun kamu tidak sedogmatis orang tua pasanganmu. Karena keyakinan agama adalah hal yang pribadi, sebaiknya tidak perlu menjadikan perbedaan tersebut sebagai bahan perdebatan ya Feels.

Bagaimana Menyikapi Perbedaan pada 5 Isu Tersebut

Nah itu dia lima hal yang perlu untuk didiskusi dan negosiasikan dalam pernikahan. Pada 5 hal tersebut dan mungkin hal lainnya, kamu mungkin akan menyadari bahwa orang tua pasanganmu memiliki pemikiran, perasaan, dam keinginan yang unik. Mungkin juga berbeda dengan pemikiran, perasaan, dan keinginanmu sendiri.

Belajar mendengarkan

Mendengarkan mereka secara empatik, mendengar untuk memahami sudut pandang mereka, tentang bagaimana mereka bisa sampai pada kesimpulan atau perilaku tersebut, dan bagaimana yang mereka rasakan. Mendengarkan secara empatik bukan berarti kita harus menyutujui apa yang mereka sampaikan, namun menghormati mereka dan pikiran mereka. Mendengarkan secara empatik juga berarti kita menahan diri kita untuk menjudge sebelum kita benar-benar yakin paham akan apa yang orang lain sampaikan. Karena kamu sudah mendengarkan mereka tanpa bersikap judgemental, besar kemungkinan mereka lebih dapat mendengarkan perspektifmu secara jujur.

Baca juga: Hal yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah 

Belajar bernegosiasi

Yang perlu kita ingat saat kita bernegosiasi, kita sedang membuat permintaan, bukan tuntutan. Kita dapat membuat permintaan kepada orang tua dari pasangan kita terkait 5 hal tadi atau hal lainnya untuk menyesuaikan dengan ekspektasi kita. Yang perlu kita ketahui adalah, mereka bisa saja menerima sepenuh hati permintaan kita, memodifikasi permintaan kita, atau justru malah mereka yang membuat permintaan sendiri. Saat inilah dibutuhkan proses mendengarkan dan menghargai ide satu sama lain selama proses bernegosiasi untuk mendapatkan solusi atau jalan tengahnya. Yang terpenting adalah tujuan akhirnya terdapat solusi yang disetujui olehmu dan pasangan serta orang tua pasangan, dan tidak lupa hubunganmu dengan orang  tua pasangan menjadi semakin baik.

Belajar love language orang tua dari pasangan

Satu hal lagi yang dapat membantu kita untuk merawat hubungan yang baik dan positif dengan orang tua dari pasangan adalah kenali dan pahami love languange mereka serta secara reguler menunjukkannya kepada mereka.

Source
Chapman, Gary D. (2010). Things I Wish I'd Known Before We Got Married. Chicago: Northfield Publishing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fatherless Family: Ketika Ayah Hanya Tahu Cari Uang Saja?

Mengasuh anak sejatinya adalah tanggung jawab utama orang tua, bapak dan ibu. Namun ada juga pandangan menurut beberapa orang yang beranggapan bahwa mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga adalah tugas ibu. Sedangkan peran bapak hanyalah pencari nafkah saja, sehingga bapak tidak banyak berperan dalam parenting bahkan sangat minim. Fatherless family , sebuah label yang diberikan kepada sebuah keluarga dimana peran ayah dalam pengasuhan anak dikeluarga tersebut yang minim baik secara fisik maupun psikis. Fatherless merupakan kombinasi dari jarak secara fisik dan emosional antara ayah dan anaknya. Pandangan anak tentang keterlibatan ayahnya menandakan esensi dari peran ayah dalam kehidupan anak. Benarkah seperti itu? Feel You akan mencoba membahas fenomena fatherless family . Mengapa fatherless family bisa terjadi? Di negara barat Peningkatan jumlah orang tua tunggal disebabkan oleh meningkatnya perceraian. Adanya perubahan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kondisi

Cinta Bukan Cuma Romantis Saja, Ini Bentuk Lainnya Menurut Psikologi

Berbicara tentang cinta, banyak sekali maknanya menurut setiap orang dengan pengalamannya masing-masing. Tapi cinta itu apa sih ? Apakah cinta hanya untuk hubungan romantis dengan pasangan saja? Apakah ada bentuk cinta yang lain? Bagaimana juga dengan cinta kepada teman-teman atau bahkan kepada Tuhan? Berikut ini adalah bentuk-bentuk cinta menurut tokoh psikologi, Rollo May, yang Feel You tulis buat kamu Feels. 1. Sex Seks adalah fungsi biologis yang dapat dipuaskan melalui hubungan seksual atau pelepasan ketegangan seksual lainnya. 2. Eros Terjadi kebingungan perbedaan antara eros dan seks. Seks merupakan kebutuhan fisiologis yang mencari kepuasan melalui pelepasan ketegangan. Berbeda dengan seks, eros merupakan dorongan psikologis yang menginginkan hubungan seksual melalui pernikahan yang langgeng dengan orang yang kita cintai. Eros is making love, sex is manipulating organs . Eros berorientasi pada hubungan yang awet, sedangkan seks adalah keinginan untuk merasakan kesenangan. Eros