Langsung ke konten utama

Fatherless Family: Ketika Ayah Hanya Tahu Cari Uang Saja?

Mengasuh anak sejatinya adalah tanggung jawab utama orang tua, bapak dan ibu. Namun ada juga pandangan menurut beberapa orang yang beranggapan bahwa mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga adalah tugas ibu. Sedangkan peran bapak hanyalah pencari nafkah saja, sehingga bapak tidak banyak berperan dalam parenting bahkan sangat minim. Fatherless family , sebuah label yang diberikan kepada sebuah keluarga dimana peran ayah dalam pengasuhan anak dikeluarga tersebut yang minim baik secara fisik maupun psikis. Fatherless merupakan kombinasi dari jarak secara fisik dan emosional antara ayah dan anaknya. Pandangan anak tentang keterlibatan ayahnya menandakan esensi dari peran ayah dalam kehidupan anak. Benarkah seperti itu? Feel You akan mencoba membahas fenomena fatherless family . Mengapa fatherless family bisa terjadi? Di negara barat Peningkatan jumlah orang tua tunggal disebabkan oleh meningkatnya perceraian. Adanya perubahan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kondisi

Celebrity Worship: Syndrome Jika Mengagumi Idol Berlebihan

Selebriti tidak bisa dijauhkan dari yang namanya penggemar. Biasanya penggemar bergabung dalam komunitas tertentu yang biasa disebut fansbase atau fandom. Penggemar memiliki antusiasme yang berbeda-beda, seperti selalu mengikuti informasi soal idola, membeli merchandise idola mereka, membeli album, atau datang ke konser musiknya. Reaksi dan perilaku yang dimunculkan penggemar terkait dengan idolanya bisa bermacam-macam. Kali ini Feel You akan membahas fenomena penggemar yang terobsesi dengan selebriti, yang disebut celebrity worship.


Sourcealeksandarlittlewolf on freepik

Definisi
Menurut Chapman, celebrity worship adalah perilaku obsesif adiktif terhadap selebriti dan segala sesuatu yang berhubungan dengan selebriti tersebut. Terkadang karena seseorang sangat terobsesi dengan sang idola, orang tersebut tidak peduli dengan berita negatif selebriti idolanya. Menurut Griffith dkk, sikap seseorang yang mengalami celebrity worship cenderung tidak berubah meskipun media sering memberitakan hal positif maupun negatif tentang idolanya.

Celebrity worship
dapat menyebabkan seseorang tidak bisa lepas dengan hal-hal yang berhubungan dengan selebriti idolanya. Semakin tinggi level seseorang mengagumi dan menyukai selebriti idolanya, maka semakin tinggi tingkat keterlibatannya dengan selebriti yang diidolakannya (celebrity involvement). Dampak buruk seseorang yang mengalami celebrity worship yaitu mereka bisa melakukan apapun untuk dekat dengan selebriti idolanya, bahkan hal-hal yang ekstrim.

3 Tingkatan Celebrity Worship
Ada tiga tingkatan celebrity worship menurut Maltby dkk:

1.    Entertaiment-social

Ini merupakan tingkatan paling rendah dalam celebrity worship. Pada tingkat ini para penggemar mencari informasi mengenai selebriti idolanya, biasanya melalui media sosial maupun internet, follow akun fanbase atau fandom selebriti idolanya. Penggemar juga sering membicarakan selebriti idolanya dengan teman-temannya. Tahap ini bisa dikatakan masih tahap normal untuk seorang penggemar, mereka hanya mencari informasi dan berita terbaru mengenai selebriti idolanya.

2.    Intense personal feeling

Aspek ini sudah termasuk dalam kecenderungan obsesif penggemar. Penggemar berpikir bahwa selebriti idolanya merupakan bagian dari dirinya, sehingga para penggemar selalu memikirkan selebriti idolanya. Penggemar memilki kebutuhan untuk mencari tahu secara mendalam mengenai selebriti idolanya, mulai dari informasi terbaru hingga mengenai informasi pribadi selebriti idolanya.

Semakin meningkatnya intensitas keterlibatan penggemar dengan selebriti idolanya, penggemar mulai memandang bahwa dirinya dekat dengan selebriti tersebut dan juga mengembangkan hubungan parasosial dengan selebriti idolanya. Maltby dan Day mengatakan bahwa celebrity worship merupakan hubungan parasional, yaitu hubungan satu sisi, dimana seseorang tersebut mengenal individu lain namun individu lain tidak mengenal seseorang tersebut. Jika diibaratkan didalam dunia nyata seperti seorang penggemar yang mengenal selebriti idolanya namun selebriti tersebut tidak mengenal para penggemarnya secara pribadi.

3.    Borderline pathological

Aspek ini termasuk tingkatan paling ekstrim dalam hubungan parasosial antar penggemar dengan selebriti idolanya. Ditandai dengan perilaku yang tidak terkendali dan penggemar berfantasi mengenai skenario yang mereka buat dan melibatkan selebriti idolanya. Pada tingkat ini, penggemar bersedia untuk melakukan apapun demi selebriti idolanya, bisa dikatakan dilevel ini penggemar memiliki pemikiran yang tidak dapat terkontrol dan cenderung irasional. 

Faktor
Menurut Maltby dkk, celebrity worship dipengaruhi oleh kebiasaan seseorang melihat, mendengar, membaca dan mempelajari kehidupan selebriti idolanya secara berlebihan sehingga dapat menimbulkan sifat empati, identifikasi, obsesi dan asosiasi yang dapat menimbulkan adanya konformitas.

Selain itu ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku
celebrity worship menurut McCutcheon dkk:

1. Umur: celebrity worship pada umumnya terjadi pada remaja berusia 11 tahun hingga 17 tahun dan berkurang setelahnya.

2. Pendidikan: celebrity worship biasanya terjadi pada orang dengan tingkat intelegensi yang rendah. Orang dengan tingkat intelegensi yang tinggi bisa melihat melalui kepribadian yang dikagumi atau bahwa idola kurang cerdas dibandingkan diri mereka, dan karena itu mereka lebih sedikit mengaguminya.

3. Keterampilan sosial: celebrity worship terjadi pada orang-orang dengan keteramppilan sosial yang buruk dan melihat bahwa celebrity worship merupakan pengisi kekosongan yang terjadi dalam hubungan yang nyata.

4. Jenis kelamin: laki-laki dan perempuan dapat menyukai idola dengan konteks yang berbeda namun intensitas untuk menyukai idola biasanya lebih tinggi pada perempuan.

Dari penjelasan celebrity worship diatas. Apakah kamu atau mungkin orang disekitarmu mengalaminya?


Source:

Fajariyani, R. (2018). Hubungan Kontrol Diri dengan Celebrity Worship pada Penggemar K-Pop. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.

Prihatiningrum,
A. (2018). Celebrity Worship dan Subjective Well-Being Dikalangan K-Popers. Skripsi. Malang: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Isu Penting Hubungan dengan Mertua dan Bagaimana Menyikapinya

Ketika kamu berpikir bahwa setelah menikah nanti hanya akan ada kamu dengan pasanganmu saja, pemikiran tersebut salah besar. Mungkin selama beberapa hari setelah pesta pernikahan iya, hanya ada kamu dan pasanganmu saja untuk menghabiskan moment honeymoon . Namun setelahnya, tentu keluarga dari pasanganmu berekspektasi bahwa mereka juga bagian dari hidupmu. Beberapa budaya non-barat, keterlibatan orang tua lebih menonjol dan terang-terangan. Pada beberapa pasangan setelah menikah, istri akan ikut tinggal bersama suami dan orang tua suami tanpa batas waktu tertentu. Sedangkan pada budaya barat, hubungan dengan mertua tidak terbentuk secara kaku namun tetap ada. Tidak bisa dipungkiri ketika seseorang menikah, dirinya akan menjadi bagian dari keluarga besar pasangannya. Bisa dikatakan bahwa kita juga menikahi sebuah keluarga, termasuk kebaikan dan keburukannya. Bagaimana baik atau buruknya, dekat atau jauhnya hubungan kita dengan keluarga pasangan bergantung pada kesempatan atau moment yan

Cinta Bukan Cuma Romantis Saja, Ini Bentuk Lainnya Menurut Psikologi

Berbicara tentang cinta, banyak sekali maknanya menurut setiap orang dengan pengalamannya masing-masing. Tapi cinta itu apa sih ? Apakah cinta hanya untuk hubungan romantis dengan pasangan saja? Apakah ada bentuk cinta yang lain? Bagaimana juga dengan cinta kepada teman-teman atau bahkan kepada Tuhan? Berikut ini adalah bentuk-bentuk cinta menurut tokoh psikologi, Rollo May, yang Feel You tulis buat kamu Feels. 1. Sex Seks adalah fungsi biologis yang dapat dipuaskan melalui hubungan seksual atau pelepasan ketegangan seksual lainnya. 2. Eros Terjadi kebingungan perbedaan antara eros dan seks. Seks merupakan kebutuhan fisiologis yang mencari kepuasan melalui pelepasan ketegangan. Berbeda dengan seks, eros merupakan dorongan psikologis yang menginginkan hubungan seksual melalui pernikahan yang langgeng dengan orang yang kita cintai. Eros is making love, sex is manipulating organs . Eros berorientasi pada hubungan yang awet, sedangkan seks adalah keinginan untuk merasakan kesenangan. Eros

Fatherless Family: Ketika Ayah Hanya Tahu Cari Uang Saja?

Mengasuh anak sejatinya adalah tanggung jawab utama orang tua, bapak dan ibu. Namun ada juga pandangan menurut beberapa orang yang beranggapan bahwa mengasuh anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga adalah tugas ibu. Sedangkan peran bapak hanyalah pencari nafkah saja, sehingga bapak tidak banyak berperan dalam parenting bahkan sangat minim. Fatherless family , sebuah label yang diberikan kepada sebuah keluarga dimana peran ayah dalam pengasuhan anak dikeluarga tersebut yang minim baik secara fisik maupun psikis. Fatherless merupakan kombinasi dari jarak secara fisik dan emosional antara ayah dan anaknya. Pandangan anak tentang keterlibatan ayahnya menandakan esensi dari peran ayah dalam kehidupan anak. Benarkah seperti itu? Feel You akan mencoba membahas fenomena fatherless family . Mengapa fatherless family bisa terjadi? Di negara barat Peningkatan jumlah orang tua tunggal disebabkan oleh meningkatnya perceraian. Adanya perubahan sosial juga berkontribusi terhadap peningkatan kondisi